Tips Mencegah Balita Keracunan Obat

Tips Mencegah Balita Keracunan Obat

(Lusia Kus Anna - kompashealth)

obat pencaharHindari meletakkan obat-obatan secara sembarangan di rumah jika Anda memiliki anak balita. Data di Amerika Serikat menunjukkan setiap tahunnya 1 dari 150 anak berusia dua tahun dilarikan ke unit gawat darurat karena minum obat tanpa pengawasan.

"Meninggalkan obat di tempat yang mudah dicapai balita sangatlah berbahaya, namun hal ini sering tidak disadari para orangtua," kata Dr.Dan Budnitz, direktur program keamanan obat dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), AS.

Untuk mencegah kemungkinan balita mengalami keracuna obat karena mengonsumsi obat sendiri, ikuti beberapa tip dari CDC berikut ini:

  1. Simpan obat-obatan di tempat yang sulit dijangkau atau dilihat anak-anak.
  2. Seperti halnya obat, suplemen vitamin juga berbahaya. Bahkan vitamin dan obat bebas yang biasa dikonsumsi anak bisa berakibat fatal jika banyak tertelan.
  3. Bersikaplah disiplin dalam menutup tempat obat. Pastikan semua sudah tertutup rapat sehingga lebih sulit untuk dibuka anak-anak.
  4. Ajari anak tentang bahaya obat dan hindari memberikan permen saat membujuk anak untuk minum obat karena hal itu bisa membingungkan anak.
  5. Bila rumah Anda sering didatangi tamu atau kerabat yang meningap, ingatkan mereka juga untuk menyimpan obat-obatan pribadi di tempat yang sulit dijangkau anak.

 

Flu dan Batuk Tak Butuh Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional paling sering ditemukan pada batuk dan pilek akibat virus. Hampir seperempat masyarakat meyakini bahwa penyakit flu dan batuk akan lebih cepat sembuh jika diobati antibiotik. Padahal antibiotik hanya menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sedangkan influenza diakibatkan virus.

Hasil survei yang dilakukan oleh Health Protection Agency (HPA) tersebut dilakukan di Inggris terhadap 1.800 orang. Survei juga menemukan 1 dari 10 orang tidak menghabiskan resep antibiotik dan akan mengonsumsinya sisanya jika suatu hari sakit kembali.

Meski survei tersebut dilakukan di Inggris, sebenarnya penggunaan antibiotik yang tak rasional terjadi hampir di banyak tempat, termasuk Indonesia. Mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 ditemukan rata-rata 50 resep obat di puskesmas dan rumah sakit di Indonsia mengandung antibiotik.

Hasil serupa ditemukan dalam studi Yayasan Orangtua Peduli. Sebanyak 86,4 persen anak penderita infeksi virus yang ditandai dengan demam dan 74,1 persen anak penderita diare diresepkan dengan antibiotik.

Antibotik adalah penemuan yang penting dalam dunia kesehatan. Namun obat ini tidak bisa mengobati semua penyakit. Penggunaan yang tidak rasional akan membawa keburukan daripada kebaikan.

Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, frekuensi pemberian yang keliru, dan waktu pemberian yang terlalu lama atau cepat mengurangi efikasi antibiotik sebagai pembunuh kuman. Terapi yang tidak efektif akan menimbulkan resistensi obat yang serius.

Menurut HPA 30 persen responden membeli antiobiotik setiap tahunnya. "Ini membuktikan bahwa makin sering kita mengonsumsi antibiotik, makin besar kemungkinannya mengalami resistensi. Efek samping lainnya adalah menderita diare karena antibiotik," kata Dr.Clioda McNulty, dari HPA.

HPA juga merekomendasikan agar para tenaga kesehatan membatasi keinginan pasien akan antibotik karena 97 persen responden mengatakan terakhir kali mereka minta antibotik pada dokter, mereka langsung diberikan resep.

"Meski sudah bertahun-tahun dikampanyekan akan bahaya resistensi obat dan bahwa penyakit flu dan batuk tidak bisa disembuhkan dengan antibotik, nyatanya mitos yang salah ini masih dipercaya," kata McNulty. (healthkompas)

Parent Category: Artikel & Konten