SINERGI
Gotong Royong merupakan kebiasaan yang hidup di
masyarakat kita. Namun akhir-akhir ini kebiasaan ini mulai pudar.
Individualisme mulai menonjol dalam berbagai segi kehidupan. Padahal melalui
sinergi berbagai potensi yang ada di masyarakat dapat dibangun kekuatan bangsa
yang akan mendorong kemajuan.
Sinergi antara kalangan akademis, industri farmasi dan pemetintah Indonesia
belum terbangun baik. Masing-masing kurang peduli dan berjalan sendiri-sendiri.
Di Laboratorium Hepatika Mataram para ilmuwan berhasil menghasilkan produknya
untuk pemeriksaan hepatitis B, Hepatitis C dan Malaria. Kit ini amat diperlukan untuk pemeriksaan penyakit
yang kerap didapatkan pada masyarakat kita. Kit ini mempunyai keunnggulan
karena dapat digunakan tanpa peralatan laboratorium yang canggih, mudah
digunakan di lapangan. Namun produk ini belum dikenal. Bahkan dikalangan tenaga
kesehatan banyak yang belum tahu bahwa bangsa Indonesia mampu membuat produk
sendiri. Produk yang beredar dan banyak digunakan masih berupa produk impor.
Teman-teman di Mataram tentu bangga karena produk buatan mereka diakui secara
global karena telah digunmakan di negara-negara tetangga kita. Namun kebanggan
saja tidak lah mencukupi. Teman-teman di Mataram memerlukan juga dukungan baik
dari kalangan industri maupun pemerintah.
Pemerintah perlu mendorong setiap produk dalam negri untuk berkembang
menjadi tuan rumah di negrinya sendiri bahkan jika mungkin digunakan juga di
luar negri. Dukungan pemerintah akan mendorong pertumbuhan industri dalam negri
sehingga industri dalam negri semakin berkembang dan mempunyai kemampuan untuk
mengadakan pengembangan. Dengan demikian pengembangan industri membuka
kesempatan untuk mengembangkan penelitian yang akan meningkatkan mutu produk
dan menambah jenis produk baru. Kepedulian terhadap pengembangan produk dalam
negri yang tumbuh di masyarakat serta kalangan industri akan menimbulkjan
kebanggan dan menumbuhkan suasana yang kondusif untuk tumbuh.
Industri Farmasi kita dewasa ini tertinggal dalam bidang biotek. Dalam
majalah Nature biotech dilaporkan penjerapan biotek dalam bidang industri farmasi
diberbagai negara berkembang. Pada laporan tersebut dapat dibaca bagaimana
perkembangan biotech dalam industri farmasi di Cina, India, Kuba, Argentina,
Afrika Selatan dan Mesir.
Cina dan India dikenal dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga bagi
banyak orang perkembangan industri biotek di negara tersebut bukanlah yang
mengherankan. Namun bagaimana dengan Mesir? Mesir dengan penduduk yang jauh
lebih sedikit daripada Indonesia telah mampu memproduksi Insulin dengan
teknologi rekombinan DNA. Produksi Insulin tersebut tentulah membanggakan
kalangan ilmuwan Mesir, pemerintah dan masyarakat. Mereka dapat menegakkan
kepala kepala dan masyarakat Mesir tidak tergantung lagi pada produk import.
Kalangan ilmuwan Mesir juga bangga karena mereka telah berhasil menunjukkan
pada kalangan ilmuwan dunia bahwa mereka juga telah menguasai teknologi
rekombinan DNA dengan baik.
Bagaimana dengan di Indonesia. Menurut Arif Witarto, salah seorang pakar
biotek kita, sedikitnya ada 30 orang pakar biotek di Indonesia. Mereka tidak
hanya jago kandang tetapi juga diakui kepakarannya pada tingkat regional maupun
global. Sebagian mereka dipekerjakan di Industri biotek negara maju. Kenapa
Industri biotek farmasi belum juga berkembang di Indonesia? Kita agaknya masih
sibuk dengan diri sendiri, belum sempat melihat potensi teman-teman. Kita masih
merasa puas dengan keadaan industri farmasi
dewasa ini karena pertumbuhan industri farmasi kita cukup tinggi. Untuk
apa bersusah payah membangun industri biotek farmasi yang mempunyai resiko
cukup tinggi. Kita belum mampu membangun sinergi untuk memperkuat industri
farmasi kita menghadapi era industri biotek di masa depan.
Bersediakan kita merubah sikap untuk kemajuan industri farmasi tanah air.
Pengembangan sikap wirausaha yang mampu mengantisipasi masa depan. Mampukah
kita juga membangun sinergi berbagi potensi di negeri kita untuk mengembangkan
industri farmasi yang kompetitif. Jawabannya tergantung pada diri kita
masing-masing.
(Prof.
Dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.P.D)
Last Updated on Thursday, 19 June 2008 23:22
Hits: 1713