Obat Generik

Obat Generik

obat_generik2Obat generik adalah obat yang diproduksi dengan mengopi formula obat paten atau obat originator. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa obat generik memiliki persamaan dengan obat paten dalam hal zat aktifnya (zat utama dalam obat), dosis, indikasi (khasiatnya) dan bentuk sediaan (tablet, kapsul, sirop, dan sebagainya). Jadi dapat dipastikan khasiat obat generik akan semujarab obat patennya bila diberikan dengan cara yang sama.

Nah, obat generik ada yang dijual tanpa merek sebagai obat generik berlogo (OGB) ataupun obat generik bermerek. Tidak ada perbedaan antara obat generik berlogo dengan obat generik bermerek. Perbedaannya hanya pada kemasan dan harga. OGB umumnya diberi logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di tengah lingkaran. Namanya biasanya diambil dari zat aktifnya.

Sedangkan obat generik bermerek yang lebih umum disebut obat bermerek adalah obat yang diberi merek dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya. Contoh, OGB untuk obat alergi adalah Cetirizin, sedang obat generik bermeknya ada yang memiliki nama dagang Zyrtec.

Obat generik bermerek memiliki harga yang lebih mahal sedikit dibanding OGB. Namun harganya tetap tidak semahal obat paten. Secara umum harga obat generik berkisar 80-85 persen lebih rendah dibandingkan obat paten. Bahkan pemerintah Indonesia telah menetapkan harga obat generik rata-rata 1/20 dari harga obat paten atau obat originator.

Contohnya, menurut data tahun 2009, obat darah tinggi (Capoten, obat originator) dijual seharga Rp &.990. Sedangkan harga obat generiknya dengan nama Kaptropil 25 mg hanyalah Rp 172. Bisa dibayangkan betapa murahnya harga obat generik. Harga obat originator mencapai 46,5 kali dibandingkan obat generik.

Mengapa harga obat generik lebih murah dibandingkan obat paten? Sebab untuk memproduksi obat generik tidak diperlukan lagi riset penemuan dan pengembangan obat yang sangat mahal biayanya. Selain itu obat generik hanya memerlukan riset formulasi agar kadarnya dalam darah atau disolusinya sebanding dengan obat originatornya.

Obat generik pun dijual dalam kemasan besar, sehingga tidak diperlukan biaya pengemasan. Obat ini pun tidak diiklankan atau dipromosikan sehingga tiadak membutuhkan biaya promosi atau iklan. Dengan begitu, harga obat benar-benar ditekan. Inilah yang menyebabkan harga obat generik jauh lebih murah. (Sumber : kompas.Health)

Mitos Tentang Obat Generik

Anggapan bahwa obat generik adalah obat kelas dua hingga kini masih beredar di masyarakat. Inilah mengapa terkadang pasien ragu-ragu meminta obat generik saat berkonsultasi ke dokter. Padahal mutu obat generik sama baiknya dengan obat paten. Kalau ada perbedaan semata-mata dari sisi ekonominya saja.

Mitos: Obat generik tak seampuh dan seaman obat paten 
Fakta: BPOM dan FDA mensyaratkan obat generik memiliki kualitas, keampuhan, kemurnian dan kestabilan yang sama dengan obat paten imbangannya karena memiliki unsur aktif yang sama. Berarti obat generik memiliki risiko dan manfaat yang juga sama dengan obat paten tersebut.
 

Mitos: Obat generik bekerja lebih lambat di dalam tubuh
Fakta: Obat generik harus menghasilkan jumlah unsur aktif yang sama dengan waktu yang sama seperti obat paten aslinya.
 

Mitos: Obat generik memiliki lebih banyak efek samping
Fakta: BPOM dan FDA memantau laporan efek samping obat dan tidak menemukan perbedaan yang nyata dalam peristiwa timbulnya efek samping.
 

Mitos: Obat generik dibuat dengan fasilitas yang kurang memenuhi standar
Fakta: FDA dan BPOM melakukan ribuan kali pemeriksaan setiap tahun untuk memastikan bahwa fasilitas pabrik obat paten maupun generik memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Sesungguhnya sekitar saparuh dari seluruh obat generik diproduksi oleh perusahaan obat paten yang membuat duplikasi dari obat paten mereka sendiri atau obat paten dari perusahaan lain.

(Sumber : KompasHealth)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi