Risiko di Balik Zat Pengawet Methylparaben

Risiko di Balik Zat Pengawet Methylparaben

methylparabenJakarta, Hampir semua orang sepakat makanan yang diproses secara kimiawi akan berbahaya bagi tubuh jika digunakan secara berlebihan. Begitu juga dengan Methylparaben (Methyl P-Hydroxybenzoate atau E218) tetap ada risiko di balik manfaatnya.

Methylparaben jadi buah bibir terkait masalah pencekalan produk mi instan Indomie di Taiwan. Zat ini memang bermanfaat untuk mencegah pembusukan dan kontaminasi dari jamur dan bakteri sehingga produk tahan dalam beberapa jangka waktu.

Zat ini dikenal sebagai ester dari asam para-hidroksibenzoat yang bahan dasarnya dikembangkan dari asam organik dan alkohol. Walaupun paraben adalah produk alam, namun karena penggunaannya massal paraben diproduksi secara sintetis.

Meski Methylparaben bisa larut dalam air dan mudah diserap oleh saluran usus atau kulit tetap saja ada risiko jika penggunaannya berlebih.

Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan memberikan ambang batas aman untuk produk ini yang batas maksimum penggunaan diijinkan misalnya pada kecap adalah 250 mg/kg. Dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, batas maksimum penggunaan adalah 1000 mg/kg.

Tapi menurut temuan yang dipublikasikan pada Journal of Applied Toxicology, penggunaan yang berlebihan dalam jangka waktu lama dapat membahayakan tubuh, karena Methylparaben tidak selalu dipecah dan dikeluarkan oleh tubuh.

Dilansir dari beberapa jurnal kesehatan yakni Journal of Applied Toxicology dan Journal of Reproductive Toxicology yang dikutip Selasa (12/10/2010), ada beberapa efek negatif kesehatan dari zat pengawet Methylparaben yang digunakan secara berlebihan:


1. Kanker payudara

Penggunaan Methylparaben secara berlebihan dan dalam jangka waktu lama dapat membahayakan tubuh. Zat pengawet yang tidak dipecah dan dikeluarkan tubuh dapat bertindak sebagai estrogen yang kemudian menumpuk di organ reproduksi. Pada perempuan, hal ini dapat memicu kanker payudara.

Berdasarkan hasil studi yang telah diterbitkan dalam Journal of Applied Toxicology pada tahun 2004, pada beberapa kasus kanker payudara ditemukan adanya sejumlah paraben pada jaringan kanker payudara yang di biopsi.


2. Infertilitas (ketidaksuburan) pada pria

Paraben menyerupai hormon estrogen pada wanita dalam tubuh. Menurut studi Januari 2009 yang diterbitkan dalam Journal of Reproductive Toxicology, penggunaan paraben secara berlebihan dapat menyebabkan kemandulan dan kanker prostat pada pria.

Studi tersebut melaporkan bahwa sifat estrogenik ringan pada bahan pengawet ini dapat mengubah kesehatan sel-sel di testis, yang pada gilirannya menyebabkan jumlah sperma lebih rendah dan potensi reproduksi berkurang.


3. Alergi

Pada sebagian orang yang sentisif terhadap Methylparaben dapat menyebabkan alergi. Orang yang alergi paraben bisa mengalami dermatitis dan iritasi kulit bila mengalami kontak dengan zat pengawet tersebut.

Meski hal ini tidak terjadi pada kebanyakan orang, beberapa individu yang rentan terhadap alergi kulit, eksim dan rosacea (kondisi kulit kronis yang ditandai dengan kemerahan) sebaiknya menghindari penggunaan produk dengan zat pengawet paraben.


4. Gangguan pencernaan

Penggunaan Methylparaben dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran percernaan seperti asam lambung meningkat dan tukak lambung.


5. Gangguan pernapasan

Selain gangguan pencernaan, penggunaan Methylparaben dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, seperti menyebabkan sakit tenggorokan, batuk dan kesulitan bernapas. (detikHealth)

 

Zat Pengawet Methylparaben Dipakai di Mana Saja?

Methylparaben (Methyl P-Hydroxybenzoate atau E218) atau pengawet nipagin jadi buah bibir terkait dengan masalah pencekalan produk mi instan Indomie di Taiwan. Produk apa saja yang menggunakan zat pengawet ini?


Paraben secara teknis dikenal sebagai ester dari asam para-hidroksibenzoat. Bahan ini dikembangkan dari asam organik dan alkohol. Walaupun paraben adalah produk alam, namun karena penggunaannya massal paraben diproduksi secara sintetis.

Sebagai zat pengawet makanan, Badan pengawas makanan dan obat Amerika (FDA) menggolongkan Methylparaben atau nipagin dalam kategori Generally Recognized as Safe (GRAS) yang larut dalam air.

Intinya Methylparaben dipakai untuk mencegah pembusukan dan kontaminasi dari jamur sehingga produk tahan terhadap jamur dan mikroba dalam beberapa jangka waktu.

"Di Indonesia penggunaan Bahan Tambahan Pangan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan," kata Dra Kustantinah, Apt, M.App.Sc, Kepala BPOM RI, dilansir dari rilis BPOM, Selasa (12/10/2010).

Seperti dilansir dari Ehow, Methylparaben bisa ditemukan pada produk seperti:

  1. Kecap
  2. Sereal
  3. Produk roti
  4. produk susu beku
  5. Minyak dan lemak
  6. Selai
  7. Sirup
  8. Produk coklat dan kakao
  9. Minuman kaleng
  10. Bumbu-bumbu kemasan
  11. Produk daging, ikan dan unggas


Sedangkan pada kosmetik, Methylparaben sering ditemukan pada:

  1. Pelembab wajah
  2. Produk anti-penuaan
  3. Pewarna rambut
  4. Produk pemutihan kulit
  5. Gel cukur
  6. Pembersih wajah
  7. Spray
  8. Shampo dan conditioner
  9. Maskara
  10. Eye shadow
  11. Alas bedak


Dan dalam industri farmasi, Methylparaben telah digunakan untuk melindungi obat sejak 1924. Metil digunakan untuk anti-bakteri seperti pada:

  1. Antibiotik topikal
  2. Kortikosteroid
  3. Obat tetes mata
  4. Penisilin


"Dalam produk kecap, batas maksimum penggunaan yang diijinkan adalah 250 mg/kg. Dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, batas maksimum penggunaan adalah 1000 mg/kg," jelas Dra Kustantinah.

Dra Kustantinah dalam rilisnya juga menjelaskan, dari kajian persyaratan di beberapa negara seperti Kanada, Amerika Serikat, batas maksimum penggunaan nipagin dalam pangan yang diijinkan adalah 1000 mg/kg. Sedangkan di Singapura dan Brunei Darussalam, batas maksimum penggunaan dalam kecap 250 mg/kg dan di Hongkong sebesar 550 mg/kg.(detikHealth)

 

Kenapa Harus Pakai Zat Aditif dan Pengawet?

Hampir semua produk industri masa kini tidak ada yang bebas dari zat aditif (tambahan) dan zat pengawet. Keduanya telah digunakan dalam industri makanan, obat dan kosmetik selama ratusan tahun. Kenapa zat-zat ini harus dipakai?

Badan Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Badan Pengawas Makanan dan Obat AS atau Food and Drug Administration (FDA) dan Komisi Pangan Eropa atau European Commission's Scientific Committee on Food telah menjadi rujukan dunia bagaimana menggunakan zat aditif dan pengawet dalam industri.

Seperti dilansir dari FDA, Selasa (12/10/2010) zat aditif didefinisikan sebagai zat yang digunakan secara wajar untuk mempengaruhi karakteristik setiap makanan yang dilakukan baik langsung maupun tak langsung. Tujuannya kebanyakan untuk menambah rasa.

Zat aditif biasanya ditambahkan pada makanan. Bisa secara langsung pada makanannya atau tidak langsung seperti dalam proses pengolahan, pengemasan atau penyimpanan.

Sedangkan zat pengawet adalah salah satu zat aditif yang tentu saja dipakai untuk membuat suatu produk tidak cepat rusak karena gangguan jamur, bakteri atau mikroba lainnya.

Zat aditif dan pengawet saat ini awalnya bersumber dari alam. Garam misalnya telah digunakan sebagai pengawet selama berabad-abad. Garam menurunkan aktivitas air dalam daging dan makanan lain serta menghambat pertumbuhan bakteri.

Yang menjadi fokus dalam pengawetan adalah produk tetap kering dan tidak lembab karena kelebihan air dalam produk dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri, dan jamur.

Selain garam yang sering digunakan sebagai pengawet adalah asam seperti cuka yang bisa menurunkan pH makanan ke tingkat yang menghambat pertumbuhan bakteri. Beberapa tumbuhan dan rempah-rempah seperti kari, kayu manis dan cabai juga mengandung antioksidan dan dapat memberikan efek bakterisida.

Tapi karena kebutuhannya yang semakin massal zat-zat dari alam itu akhirnya disentesis melalui proses kimiawi.

Alasan kenapa zat aditif dan pengawet selalu digunakan dalam banyak produk adalah karena untuk menjaga konsistensi dan kualitas produk, meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi, mempertahankan kegunaan, mengontrol pH, meningkatkan rasa atau memberikan warna.

Zat aditif dan pengawet yang digunakan industri saat ini dikelompokkan ke dalam:


1. Kelompok Antimikroba (Antimicrobial agents)

Tujuannya mencegah pembusukan makanan oleh jamur atau mikroorganisme. Jangkauannya tidak hanya cuka dan garam, tetapi juga senyawa seperti asam kalsium propionat dan sorbat. Produk ini digunakan untuk makanan yang dipanggang, salad, keju, margarin, dan makanan acar.

2. Antioksidan (Antioxidants)

Tujuannya mencegah tengik pada makanan yang mengandung lemak dan mencegah kerusakan makanan yang disebabkan oleh oksigen. Contoh antioksidan adalah vitamin C, vitamin E, BHA, BHT (butil hydroxytolene) dan gallate propil.


3. Warna tiruan, yang dimaksudkan untuk membuat makanan lebih menarik dan menyediakan makanan tertentu dengan warna untuk rasa tertentu misalnya, merah untuk buah ceri, hijau untuk zat kapur.


4. Rasa buatan

Paling banyak digunakan untuk zat aditif karena fungsinya untuk membuat rasa makanan lebih baik dan enak serta memberikan rasa tertentu. Contohnya adalah garam, gula dan vanili, yang digunakan untuk melengkapi rasa makanan tertentu.

Sedangkan bahan sintetik untuk rasa seperti benzaldehida digunakan untuk ceri atau rasa almond, monosodium glutamat (MSG) untuk meningkatkan rasa dari senyawa lain dalam makanan.

5. Zat pemutih makanan

Contohnya adalah peroksida yang digunakan untuk memutihkan makanan seperti tepung terigu dan keju.


7. Kelompok Chelating

Digunakan untuk mencegah perubahan warna, perubahan rasa dan rasa tengik yang mungkin terjadi selama pengolahan makanan. Contohnya adalah asam sitrat, asam malat dan asam tartrat.

8. Gizi tambahan

Termasuk vitamin dan mineral yang ditambahkan pada makanan dalam proses fortifikasi. Sebagai contoh, susu diperkaya dengan vitamin D dan beras diperkaya dengan thiamin, riboflavin dan niacin.


9. Kelompok Thickening and stabilizing

Berfungsi untuk mengubah tekstur makanan. Contohnya lesitin emulsifier yang mencampur minyak dan cuka dalam salad, serta carrageen yang digunakan sebagai pengental dalam es krim dan jeli rendah kalori.


Sebaiknya Anda juga mengetahui beberapa bahan pengawet kimia yang sering digunakan untuk makanan adalah:

  1. Sodium benzoat, pengawet ini berfungsi mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri dalam makanan. Biasanya terdapat dalam buah atau bumbu di dalam makanan yang berbentuk bubuk putih seperti garam tapi tidak memiliki bau.
  2. Sodium nitrit, pengawet ini berfungsi mencegah produksi bakteri dalam jenis daging tertentu sehingga daging terlihat lebih merah atau pink dan tidak cepat berubah warna menjadi coklat. Pengawet ini berbentuk serbuk berwarna kekuningan.
  3. Kalium (pottasium) sorbate, pengawet ini berfungsi menahan produksi ragi dan jamur dalam makanan. Biasa digunakan dalam pembuatan roti, kue, pie, keju, mayonnaise atau bisa juga di dalam minuman.
  4. Natrium sorbate, pengawet ini berfungsi menghentikan produksi bakteri, kapang dan jamur serta membantu menghilangkan rasa dan bau tidak enak dalam makanan. Biasa digunakan dalam minuman anggur, keju dan saus.
  5. Sulfur (belerang) dioksida, pengawet ini berbentuk bubuk yang bila dilarutkan dalam air dapat menghentikan proses pemasakan buah, mengubah susunan kimiawi yang dapat mengubah rasa dari buah. Biasanya ditemukan dalam anggur, cuka dan beberapa jenis jus buah seperti jus jeruk atau jus apel.


Beberapa bahan pengawet lainnya juga ada yang ditambahkan di dalam makanan seperti asam benzoat, asam propionat, asam sorbat, etil p-hidroksi benzoat, kalium benzoat, kalium bisulfit, kalsium benzoit, kalsium sorbat, metil p-hidroksi benzoit, natrium bisulfit, natrium meta bisulfit, natrium nitrat, natrium nitrit, natrium propionat, natrium sulfit, propil p-hidroksi benzoit, kalium, nisin, kalium nitrat, kalium nitrit dan kalium propionat.

Bahan pengawet ini umumnya aman selama tidak dikonsumsi melebihi ambang batasnya. Jika penggunaannya melebihi ambang batas, maka bisa menimbulkan efek samping yang dapat merusak makanan tersebut atau berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

Batas maksimum yang dapat ditolerir oleh tubuh disebut dengan ADI (Acceptable Daily Intake) yaitu jumlah bahan tambahan makanan yang dapat dikonsumsi setiap hari dan bisa dicerna sehingga tidak menimbulkan risiko kesehatan.

 

(Sumber : detikHealth)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi