Klarifikasi BPOM tentang Hasil Pengujian Air Minum Dalam Kemasan

bpom_baruKETERANGAN PERS
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
KLARIFIKASI SOAL HASIL PENGUJIAN AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK)
Nomor : HM.04.02.1.23.11.10.10535
Jakarta, 4 November 2010

 

Sehubungan dengan munculnya pemberitaan mengenai hasil penelitian Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Badan POM RI selaku institusi Pengawasan Obat dan Makanan di Indonesia perlu memberikan klarifikasi sebagai berikut:

  1. Badan POM RI memandang hasil penelitian YLKI sebagai masukan yang bermanfaat dan penting dalam upaya perlindungan konsumen. Untuk itu Badan POM RI menyampaikan terima kasih atas upaya YLKI untuk ikut berperan melindungi konsumen.
  2. Badan POM RI secara berkala melakukan pengawasan terhadap AMDK antara lain melakukan pengambilan sampel di pasaran, pengujian di laboratorium dan pemeriksaan sarana produksi untuk memastikan keamanan AMDK dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat.
  3. Terhadap temuan YLKI, Badan POM RI telah melakukan tindak lanjut pengawasan dengan pengambilan sampel produk dari pasaran dan pengujian serta melakukan audit komprehensif terhadap sarana produksi. Dari hasil pengawasan tersebut, Badan POM RI telah melakukan regulatory action, yaitu (a) memberikan peringatan keras dan.memerintahkan 6 (enam) produsen untuk melakukan perbaikan proses produksi yang sesuai dengan standar Cara Produksi Pangan yang Baik; dan (b) memerintahkan 1 (satu) produsen untuk melakukan penarikan terhadap seluruh produk karena tidak melakukan pendaftaran ulang.
  4. Dalam memastikan keamanan pangan yang ada di pasaran, keselamatan konsumen menjadi prioritas utama Badan POM RI. Untuk itu Badan POM RI mengajak semua pihak termasuk produsen dan masyarakat untuk bersama-sama bersinergi untuk meningkatkan kesadaran publik dalam melindungi dirinya sendiri.
  5. Badan POM RI telah dan selalu melaksanakan pengawasan secara komprehensif melalui sistem pengawasan tiga lapis yaitu: oleh pemerintah dalam hal ini Balai POM seluruh Indonesia, Pemerintah Daerah (Dinas Perindustrian, Dinas Kesehatan) dan instansi terkait lainnya; produsen, dan masyarakat melalui keterlibatan LSM termasuk YLKI, organisasi profesi dan unsur masyarakat lainnya.
  6. Dihimbau kepada masyarakat yang memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Badan POM RI dengan nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. dan This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau Layanan Informasi Konsumen di seluruh Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

 

Demikian penjelasan ini kami sampaikan untuk dapat diketahui sebagaimana mestinya.

 ttd_kustantinah

 

 

 

(Sumber : BPOM)


Air Minum Kemasan Tercemar karena Pedagang?

Para pedagang air minum dalam kemasan, terutama dalam kemasan gelas diimbau untuk tidak menempatkan air minum dalam kemasan secara sembarangan. Hal ini dapat menyebabkan jumlah mikroba dalam air minum kemasan berkembang pesat.

Hendro Baruno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), menyatakan, banyak pedagang eceran yang memperlakukan dagangannya secara sembarangan sehingga dapat menurunkan kualitas suatu produk.

"Contohnya ada pedagang memasukkan AMDK (air minum dalam kemasan) ke kulkas hari ini, besoknya karena tidak terjual dikeluarkan dari kulkas atau memajang AMDK dagangannya di tempat yang mempunyai kontak langsung dengan matahari. Ini berbahaya bagi kualitas AMDK tersebut," ujarnya saat konferensi pers mengenai kualitas AMDK, Rabu (3/11/2010) di Hotel Sultan, Jakarta.

Adapun Aspindo mengaku kesulitan untuk mengedukasi para pedagang karena luasnya penyebaran AMDK di masyarakat. "Sekarang ini ada sekitar 500 perusahaan air minum dan hampir 1.000 merek. Bagaimana kita bisa edukasi agen-agen sampai pedagang kaki lima? Ini sulit sekali," ujarnya.

Deputy Keamanan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Sparingga juga menyampaikan imbauan yang sama. Menurutnya, kualitas AMDK dapat berubah sesuai kondisi di sekitarnya.

"Jumlah mikroba dalam air itu bisa bertambah sesuai handling-nya. Walaupun saat keluar pabrik airnya bersih, tapi kalau handling-nya salah saat di tangan konsumen, bisa jadi kotor. Misalnya, kalau ditaruh di bawah sinar matahari atau kemasannya bocor atau terkoyak-koyak karena dilempar, itu bisa memacu perkembangan mikroba di dalamnya," urai Roy.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendapati 11 merek air minum yang bermasalah. Di antara 11 merek tersebut, 9 merek memiliki jumlah mikroba yang hampir melewati batas aman, yaitu 100.000 mikroba per mililiter. Adapun 2 merek didapati memiliki jumlah mikroba melebihi batas aman.

Namun, saat BPOM meneliti kembali soal temuan ini, BPOM menyatakan bahwa kesebelas merek tersebut aman. Diduga, kualitas AMDK yang diteliti YLKI telah rusak karena proses distribusi dan penanganan yang salah terhadap produk.

 

(Sumber : kompashealth)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi