Perhatikan Apabila Minum Obat Pencahar

Perhatikan Apabila Minum Obat Pencahar

obat_pencaharTanpa penanganan yang serius, konstipasi atau sembelit bisa menjadi masalah kronis. Namun, bukan berarti masalah ini bisa terselesaikan hanya dengan meminum obat pencahar.

"Obat pencahar hanya pertolongan pertama," kata Astrid Karina D., dokter umum dari Klinik Nirmala, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Ahli medis pun tidak merekomendasikan penggunaan obat pencahar yang terus-menerus dan dalam jangka waktu lama. Makanya, dr. Suria Nataatmadja, Group Medical Affairs Manager PT Boehringer Ingelheim Indonesia menegaskan, obat pencahar keluaran perusahaannya, Dulcolax, hanya boleh diminum paling lama dalam empat pekan.

"Kalau pola konstipasi tidak berubah atau memburuk, harus ke dokter," imbuhnya.

Toh, Chudahman Manan, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), menyarankan, penderita sebaiknya tidak langsung mengonsumsi obat-obatan pencahar saat terjadi masalah pembuangan ini. "Harus dilihat dulu akar masalahnya," jelas Chudahman.

Apalagi, konstipasi bisa terjadi karena banyak hal. Misalnya, kurangnya tubuh kurang bergerak. Ini biasanya terjadi pada orang sakit yang terlalu lama berbaring. Kurangnya aktivitas gerak tubuh membuat otot usus menjadi  lemah sehingga tidak bisa mendorong pembuangan.

Konstipasi juga bisa terjadi karena kekurangan asupan makanan atau cairan. Kekurangan asupan makanan kerap terjadi pada orang yang sedang menjalankan diet. Soalnya, pelaku diet kerap tidak bisa menjaga asupan serat saat mereka mengurangi porsi makan.

Kekurangan cairan pun mengundang konstipasi. Sebab, jika cairan kurang, bahan makanan yang masuk ke usus merljadi terlalu padat dan sukar dikeluarkan.

Penyebab konstipasi lainnya adalah efek asupan obat. Misal, ungkap Chudahman, penderita jantung biasanya mengonsumsi obat yang menenangkan saraf. Alhasil, semua otot tubuh jadi lebih rileks, termasuk otot usus, dan ini berujung pada konstipasi.

Yang paling ironis, ternyata obat pencahar juga bisa menjadi bumerang bagi penderita konstipasi. Obat pencahar bisa membuat penderita ketergantungan. Obat pencahar juga mengacaukan ritme tubuh dan mendorong terjadi konstipasi lanjutan.

Makanya, untuk mengatasi konstipasi, para pakar medis menganjurkan pertama kali, penderita memperbaiki pola hidup. Misalnya, meningkatkan konsumsi makanan berserat, meningkatkan asupan cairan ke dalam tubuh, memperbanyak aktivitas gerak, mengurangi makanan berminyak dan sukar dicerna, serta memperbaiki pola diet. Chudahman juga menganjurkan penderita konstipasi mengatur kebiasaan BAB.

Untuk mengeluarkan feses yang keras, dokter akan memberikan cairan bernama enema. Cairan licin ini akan dimasukkan lewat anus sehingga memudahkan pembuangan.

Jika harus mengonsumsi obat pencahar, Chudahman meminta pasien tidak sembarangan memilih, meski saat ini banyak obat pencahar yang dijual bebas.

Obat pencahar yang berbahaya biasanya memaksa defekasi dengan memperbanyak volume cairan dalam usus sehingga menimbulkan efek ingin buang air besar. Padahal, volume cairan itu diambil dari organ tubuh. Ini menyebabkan kekeringan dan kerusakan dinding usus.

Obat pencahar juga bisa menimbulkan efek diare alias BAB sampai lebih dari lima kali sehari. Pada saat diare, air dan elektrolit yang dibutuhkan tubuh dipaksa keluar. Padahal, organ tubuh seperti jantung membutuhkan elektrolit untuk memompa darah. Nah, diare berkepanjangan bisa menyebabkan denyut jantung ikut melemah.

Karena itu, Anda harus memilih obat pencahar yang lolos uji klinis. Obat pencahar yang merangsang pergerakan otot peristaltik usus lebih baik. Obat semacam ini akan menimbulkan keinginan buang air besar hanya ketika volume sisa makanan sudah cukup untuk dikeluarkan.

 

Pilih yang sudah teruji klinis

Untuk mengurangi risiko mengonsumsi obat, ada baiknya, Anda mengonsumsi obat yang telah teruji klinis alias sudah ada bukti batas aman penggunaan obat.

Suria bilang, obat pencahar yang baik bukan sekadar merangsang terjadinya proses defekasi atau buang air besar (BAB). Obat itu juga bisa memperbaiki frekuensi konstipasi tanpa menyebabkan ketergantungan serta sekaligus mengurangi rasa kembung dan rasa tidak nyaman dalam perut.

Chudahman menyarankan agar penderita konstipasi mengonsumsi obat pencahar yang merangsang gerak peristaltik usus. Obat pencahar jenis ini biasanya memilild kandungan bisacodyl.

Suria menambahkan, obat pencahar yang baik juga memiliki lapisan bernama salur enterik. Lapisan ini membawa obat langsung ke usus besar, tanpa diserap tubuh. Jadi, obat ini tidak mengganggu organ tubuh lainnya.

 

Gejala Susah BAB yang Perlu Diwaspadai

Hampir 80 persen orang pernah mengalami konstipasi atau kesulitan buang air besar. Bila terjadi hanya sesekali, konstipasi masih termasuk normal. Akan tetapi, konstipasi bisa menjadi kronik dan berakibat fatal. Jangan abaikan gejala-gejala abnormal yang menyertai konstipasi.

"Setiap pasien perlu memerhatikan alarm sign agar terhindar dari keganasan penyakit," ungkap dr. Chudaman Manan Sp.PD-KGEH, Ketua Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia, dalam media edukasi mengenai konstipasi di Jakarta (14/10/2010).

Waspadai gejala konstipasi bila terjadi perubahan pola defekasi (BAB), misalnya biasa rutin setiap hari menjadi 4 hari sekali, ada perdarahan dalam tinja, sering kram perut atau berat badan turun drastis.

"Berat badan yang turun lebih dari 5 persen berat badan dalam waktu sebulan semula tanpa sebab yang jelas bisa jadi tanda keganasan penyakit," kata Chudaman.

Untuk mendiagnosis penyakitnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti kolonoskopi (teropong usus besar).

"Banyak pasien hanya mengandalkan obat pencahar selama bertahun-tahun, ternyata setelah diperiksa ternyata ada tumor di usus," urainya.

Ia menambahkan, penggunaan obat pencahar untuk sembelit sebaiknya digunakan jika 5 hari tidak bisa BAB dan maksimum dikonsumsi selama 4 minggu. "Jika BAB-nya masih belum spontan dan lampias juga, segeralah periksa ke dokter," katanya.

 

Susah BAB, Awas Kanker Usus!

Apabila sering susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya waspada. Bisa jadi  gangguan yang Anda alami merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal.

Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter spesialis bedah kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini mengabaikan gejala sakit perut, susah buang besar dan perubahan siklus buang air besar.  Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya penyakit kanker kolorektal.

¨Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker dapat dipicu oleh gejala-gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang salah yang menyebabkan kebiasaan buang air besar dan sembelit, ungkap Dr. Adil di Jakarta, Kamis (28/2).

Menurut Aidil, perubahan siklus buang air besar memang merupakan gejala yang patut diwaspadai dalam mengantisipasi kanker kolorektal. Perubahan yang tidak wajar atau siklusnya melebihi waktu transit harus dicurigai sebagai gejala.

¨Normalnya, waktu transit yang dibutuhkan makanan dari sejak  masuk hingga dikeluarkan lagi  melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72 jam.  Jika waktunya melebihi angka tersebut, sebaiknya harus berhati-hati.

Selain perubahan siklus buang air besr, tanda lainnya yang bisa dideteksi sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat buang air besar. Tanda lainnya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa sakit di perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan kadang-kadang dapat diraba adanya massa atau tonjolan pada perut.

 

Prevalensi meningkat

Kanker kolorektal sendiri merupakan salah satu jenis kanker yang jumlah kasus atau tingkat prevalensinya cukup tinggi. Di Indonesia sejauh ini memang belum ada data akurat mengenai jumlah kasus secara rinci. "Tetapi di seluruh dunia, berdasarkan laporan terakhir, kanker kolorektal menempati urutan kedua dari daftar peenyakit kanker yang paling banyak diderita," ujarnya.

Meski belum ada data akurat, kata Adil, kasus kanker kolorektal di Indonesia cenderung mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat. Indikasi peningkatan itu misalnya dapat tercermin dari sebuah riset seorang  peneliti di Semarang yang menemuan adanya kenaikan angka kejadian dari tahun 1970 hingga 1980.

"Kalau sebelumnya angka kejadian per 1000 itu rata-rata pada perempuan 2,4 dan pada pria 2,2, ternyata kemudian ada peningkatan menjadi 3,1 hingga 3,2.  Jika di tanah air ada peningkatan kasus, sebaliknya di negara maju angka kejadian kanker kolorektal justru menurun,"  terang Adil.

Di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta sendiri, lanjut Adil, kanker kolorektal masuk dalam empat besar dari 10 jenis kanker yang paling banyak dialami para pasien.  Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55-64 tahun. Namun saat ini cukup banyak juga usia 35-44 tahun yang telah menderita kanker usus besar dan rektum. Rata-rata mereka yang berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam stadium lanjut.

"Oleh sebab itulah, penting artinya untuk mengetahui gejalanya dari awal dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya hidup yang dapat memicu risiko terjadinya kanker ini seperti pola makan tak sehat, stres, merokok dan alkohol," jelasnya.

(Sumber : kompashealth)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi