5 Hal Penyebab Osteoarthritis

5 Hal Penyebab Osteoarthritis

  

osteoarthritisSendi sebagai penopang tubuh selain tulang harus dalam kondisi prima agar gerak badan tidak terganggu. Tapi ada beberapa faktor dan kebiasaan yang bisa menggerogoti sendi yang kadang tidak menjadi perhatian orang.


Sendi merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya. Fungsi sendi ialah untuk memungkinkan kedua tulang dapat digerakkan. Arah dan kuantitas gerakan tulang ditentukan oleh jenis persendian.


Secara alami sendi memang menanggung banyak beban. Tapi jika berat badan berlebihan atau tekanan berat pada sendi terjadi terus-menerus, maka sendi akan menanggung beban di luar kemampuannya, yang akhirnya bisa merusak rawan sendi.


"Hal tersebut bisa menyebabkan robekan-robekan kecil pada rawan sendi. Saat masih muda secara alami tubuh bisa memperbaikinya. Tapi kalau usianya semakin tua dan robekan makin parah, maka tulang bisa saling menempel dan menyebabkan osteoarthritis," jelas Dr dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, dari Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat (15/4/2011).


Setidaknya ada 5 hal yang bisa menggerogoti sendi dan dapat menyebabkan osteoarthritis:

  1. Berat badan berlebihan atau obesitas
  2. Penggunaan dan penekanan berlebih pada sendi, seperti terlalu lama bersimpuh, sering mengangkat beban berat, sering naik turun tangga.
  3. Merokok dan terlalu sering minum kopi, karena rokok dan kopi bisa mengurangi kemampuan tulang menyerap kalsium.
  4. Olahraga berat dan berlebihan. Untuk menghindarinya lakukan stretching dan latihan otot sebelum melakukan olahraga.
  5. Kekurangan nutrisi, seperti kalsium, vitamin D, mineral, protein, makanan yang mengandung glukosamin dan air.


Glukosamin merupakan senyawa pembangun penting untuk sendi tulang rawan yang berperan sebagai bantalan pada ujung tulang dan mencegah tulang dari keretakan saat bergerak.


Untuk mencegah terjadinya osteoarthritis karena sendi mengalami beban di luar kemampuannya, Dr Aris memberikan beberapa cara pencegahan, antara lain:

  1. Jaga berat badan tetap ideal
  2. Perkuat otot penyangga dengan olahraga seperti berenang
  3. Perhatikan apakah beban pada sendi berlebihan (detikhealth)

 

 

 

Mana Lebih Aman Buat Sendi: Naik Tangga atau Turun Tangga?

 

Ketika naik tangga orang biasanya lebih suka menggunakan lift atau eskalator, sedangkan saat turun tangga orang masih mau melakukannya. Jangan cuma turun tangga saja yang disukai karena naik tangga justru lebih aman buat melatih tulang sendi.


Ketika Anda ketika turun tangga tulang sendi harus menanggung beban 5 kali lebih besar dari berat tubuh.

Sendi merupakan anggota tubuh yang secara terus menerus mengalami tekanan. Saat berjalan, tekanan pada sendi mencapai 2 kali berat tubuh, saat naik tangga meningkat hingga 3 kali dan saat turun tangga tekanan yang dialami sendi mencapai 5 kali dari berat tubuh.


"Itu karena gaya grativasi. Ketika naik tangga maka beban pada sendi lebih kecil dari turun tangga. Apalagi buat orang yang gemuk, maka tekanan pada sendinya lebih besar lagi," jelas Dr dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, dari Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto.


Menurut Dr Aris, hal tersebut terjadi karena kemampuan tubuh mensintesa glukosamin berkurang. Selain itu, dengan bertambahnya usia maka sel-sel kolagen juga berkurang.


Glukosamin merupakan senyawa pembangun penting untuk sendi tulang rawan yang berperan sebagai bantalan pada ujung tulang dan mencegah tulang dari keretakan saat bergerak. (detikhealth)

 

 

 

Jika Tulang Butuh Kalsium, Sendi Butuh Glukosamin

 

Selama ini banyak orang mengenal pentingnya menjaga kekuatan tulang dengan mengonsumsi kalsium, tapi hanya sedikit yang mengenal pentingnya menjaga kekuatan sendi. Jika tulang membutuhkan kalsium, maka sendi membutuhkan glukosamin agar bebas bergerak.


Glukosamin merupakan senyawa pembangun penting untuk sendi tulang rawan yang berperan sebagai bantalan pada ujung tulang dan mencegah tulang dari keretakan saat bergerak.

Secara alami sebenarnya glukosamin ditemukan di dalam tubuh, tetapi kemampuan tubuh untuk mensintesa glukosamin akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia dan ini dapat menyebabkan penyakit degeneratif osteoarthritis.


Kolagen dan proteoglikan, lanjut Dr Aris, merupakan komponen utama yang membuat sendi menjadi licin dan memudahkan orang untuk bergerak.


"Kolagen merupakan serat-serat protein yang merupakan kekuatan sendi, sedangkan proteoglikan terdiri dari glukosaminoglikan dan kondroitin sulfat yang merupakan suplemen yang dibutuhkan untuk perbaikan sendi yang terganggu," jelas Dr Aris.


Kerusakan rawan sendi biasanya paling banyak terjadi karena disebabkan oleh beban tubuh berlebih dan penggunaannya yang berlebihan.


"Seperti pekerja tambang yang sering menggunakan alat berat, biasanya berisiko untuk rusak sendi bahu, pemain tenis dan golf di sendi lengan, orang yang sering bersimpuh pada sendi lutut dan orang yang kelebihan berat badan sering mengalami gangguan rawan sendi," jelas Dr Aris.


Secara normal, rawan sendi memiliki permukaan yang licin. Biasanya terjadi robekan-robekan kecil yang kemudian dapat diperbaiki oleh tubuh sendiri. Tetapi seiring bertambahnya usia, robekan-robekan tersebut tidak bisa lagi diperbaiki oleh tubuh karena kemampuan mensintesa glukosamin berkurang. Selain itu, dengan bertambahnya usia maka sel-sel kolagen juga berkurang.


"Makin lama makin parah sehingga menyebabkan nyeri. Kalau sudah sangat parah, tulang akan menempel dan sulit digerakkan. Inilah yang disebut osteoarthritis," tutur Dr Aris.


Untuk itu, asupan glukosamin dibutuhkan terutama saat tubuh membutuhkannya dalam jumlah banyak padahal produksinya telah berkurang seiring dengan pertambahan usia.


"Penggunanaan glukosamin sebenarnya sudah sangat umum, bahkan kalau di Amerika Serikat di apotik itu glukosamin lebih banyak daripada Viagra," jelas dr Muliaman Mansyur, Medical Marketing Manager PT Fonterra Brands Indonesia.


Menurutnya, glukosamin bisa didapatkan dari asupan susu yang mengandung glukosamin, suplemen glukosamin dan beberapa makanan seperti kerang-kerangan dan daging. (detikhealth)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi