5 Panduan Penting Membeli Obat

5 Panduan Penting Membeli Obat


(Lusia Kus Anna | Asep Candra – Kompas)


obat_pencaharDalam membeli obat bebas, pasien memang memiliki keleluasaan untuk memilih jenis obat yang dikehendaki. Namun hal itu tidak bisa dilakukan manakala pasien membutuhkan obat etikal atau yang diresepkan dokter. Pasien terpaksa menyerah kepada pilihan dokter, meski obat itu berharga mahal dan belum tentu efektif.


"Pemilihan obat hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan. Kita harus memakai prinsip menimbang-nimbang apakah uang yang saya keluarkan sebanding dengan keuntungan yang diperoleh," kata Prof.Iwan Dwiprahasto, Guru Besar Farmakologi dan Terapi Universitas Gadjah Mada.

Untuk mencegah pengeluaran biaya yang tidak perlu serta penggunaan obat yang tidak rasional, Iwan memberikan beberapa tips sebelum membeli obat.


1. Perlu tidaknya membeli obat.

"Kalau hanya batuk pilek saja tentu tidak perlu (mengonsumsi) antibiotik," katanya.


2. Daya beli. Ini adalah faktor yang menentukan dan menjadi pertimbangan utama bagi sebagian besar pasien. Iwan menyarankan kepada pasien untuk membiasakan berani bertanya mengenai kemungkinan pilihan obat.


"Jika kita sakit dan membutuhkan obat, pertimbangkan kemampuan kita untuk membeli karena obat itu jenisnya banyak dan kelas harganya macam-macam. Kita harus berani bilang kepada dokter kemampuan kita berapa. Ini berkaitan dengan kepatuhan kita. Percuma membeli obat mahal tapi tidak bisa membeli sampai tuntas," katanya.


Berkaitan dengan daya beli, Iwan juga menyarankan agar pasien berani meminta pada dokter untuk meresepkan obat generik dengan manfaat yang sama dengan obat paten. "Itu hak pasien, jangan takut meminta pada dokter," cetusnya.


3. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai intruksi dokter.


4. Obat bukan segalanya. "Untuk sembuh obat bukan segalanya. Pasien hipertensi tidak hanya harus minum obat tapi juga mengurangi garam. Demikian juga halnya pasien diabetes, gula darahnya tidak akan terkontrol kalau hanya minum obat tapi juga harus mengatur pola makan dan berolahraga," paparnya.


5. Beritahu obat yang selama ini dikonsumsi. "Untuk menghindari kemungkinan interaksi antara satu obat dengan obat lain dan efek samping, beritahu dokter obat apa saja yang saat ini sedang dikonsumsi sehingga dokter bisa mempertimbangkan pilihan obat yang akan diberikan," pungkas Iwan.

 

 

 

Obat Mahal Belum Tentu Terbaik

Ketidaktahuan pasien akan obat yang dibutuhkan, ditambah dengan membanjirnya berbagai jenis obat di pasaran, membuat pasien sering mengejar obat yang harganya mahal. Bagi sebagian besar pasien, harga mahal dianggap menjadi jaminan khasiat yang manjur.

 

Menurut Prof Iwan Dwiprahasto, Guru Besar Farmakologi dan Terapi dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pertimbangan ekonomi perlu diperhatikan dalam menimbang jenis obat.

 

"Harga mahal bukan jaminan, perhatikan outcome yang kita dapatkan dari harga yang kita keluarkan," katanya di sela acara diskusi "Penatalaksanaan dan Pembiayaan Kanker di Indonesia" yang diadakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan PT Roche di Jakarta, Rabu (11/5/2011).

 

Selain harga obat, perlu ditimbang juga ongkos-ongkos lainnya, misalnya lama sedikitnya waktu untuk sembuh serta efek samping yang mungkin timbul. "Kita justru rugi jika memilih obat murah, tapi lama sembuh sampai dua minggu. Lebih baik yang agak mahal sedikit, tetapi setelah seminggu sudah bisa produktif lagi mencari uang," imbuhnya.

 

Ia menambahkan, prinsip menimbang-nimbang itu harus memerhatikan tiga faktor. Pertama adalah hasil klinis, yang meliputi efek samping serta efikasi obat. "Jangan sampai kita juga harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengatasi efek samping obat-obatan itu," paparnya.

Pertimbangan kedua adalah sisi ekonomis atau jumlah biaya, dan terakhir adalah faktor humanistik yang meliputi rasa kepuasan pasien dan keyakinan untuk sembuh.

 

"Prinsip cost-efective dalam memilih obat bukanlah memilih yang termurah, pilih yang harganya terjangkau, tetapi efektivitasnya sama dengan obat yang mahal," katanya.

 

Dalam pengobatan kanker, ia mengatakan bahwa tidak semua obat cocok untuk setiap orang. "Manjur tidaknya obat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari diagnosis, tahap penyakit, usia, dan kondisi kesehatannya secara umum," imbuhnya.

 

Ia mengatakan, biaya terapi yang tinggi dan terpaksa menguras sumber-sumber dana yang ada juga tidak bisa menjadi pilihan jika justru hanya memperpanjang penderitaan pasien.

 

"Buat apa mengeluarkan dana besar untuk menambah dua bulan usia pasien, tetapi kualitas hidupnya buruk. Itu sama saja dengan menambah penderitaannya," katanya.

 

Menurut Dr dr Djumhana Atmakusuma, Sp.PD, KHOM dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pasien dan keluarga sering kali bersikap tidak rasional dalam pengobatan kanker.

 

"Semua hal akan dilakukan untuk mencari kesembuhan, bahkan meski harga obatnya sangat mahal. Rasionalitas dikalahkan oleh keinginan untuk membantu pasien," katanya. (sumber : Kompas)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi