Jelang AFTA, Apoteker Harus Uji Kompetensi

Jelang AFTA, Apoteker Harus Uji Kompetensi

(han-75 – Suara Merdeka)

afta2015Menjelang diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada 2015, setiap apoteker yang akan bekerja di luar negeri harus diasimilasi dengan mengikuti uji kompetensi. Sebaliknya, semua apoteker lulusan sekolah luar negeri yang akan bekerja di Indonesia juga melalui uji kompetensi.

"Kita jangan sampai kalah dengan apoteker dari luar negeri. Karena pada 2015 nanti, diberlakukan AFTA dan semua harus mengikuti uji kompetensi. Namun kalau sudah sekolah di Indonesia, menjadi anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan bekerja di sini tidak perlu asimilasi," kata Ketua IAI, Drs M Dani Pratomo Apt, setelah mengetahui ada salah satu calon apoteker yang berasal dari Timor Leste pada pengambilan sumpah apoteker di Universitas Setia Budi (USB) Surakarta di Gedung Wanita Surakarta, baru-baru ini.

Ke depan, kebutuhan tenaga apoteker sangat besar karena semua apotek harus memiliki tenaga cukup. Hal itu sesuai dengan slogan tak ada apoteker maka tak ada pelayanan. Selain itu, apoteker juga dituntut untuk berkolaborasi dengan dokter dan perawat. Sebab, menurutnya, untuk memberikan obat dan menyembuhkan pasien harus ada koordinasi dari ketiganya.

Saat ini ada sekitar 16.000 macam obat dari 700-an zat berkhasiat. Dari jumlah tersebut, satu jenis obat bisa lebih dari 12 macam merek.

Menurutnya, kewenangan menjelaskan dan mengelola obat dimiliki oleh apoteker. Namun pada kenyataannya terjadi penyimpangan, karena obat di Indo-nesia sudah menjadi barang bebas tanpa ada izin dari apoteker ataupun dokter. Jika hal tersebut dibiarkan terus menerus, akan terjadi efek negatif di masyarakat.

 

BERITA TERKAIT

Semua Apoteker Harus Segera Miliki STRA

(Hanung Soekendro / CN27 / JBSM – Suara Merdeka)

Mulai bulan September tahun ini, semua apoteker yang tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) harus memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Hal itu sebagaimana aturan baru yang tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian.

Ketua IAI, Drs M Dani Pratomo Apt mengatakan tanpa memiliki STRA apoteker tak akan bisa praktik kerja. "Ini kan aturan baru dan efektif diberlakukan bulan September nanti. Semua Apoteker yang belum memiliki STRA harus segera membuatnya," kata Dani saat ditemui Suara Merdeka.

Ia menjelaskan untuk membuat surat tersebut, setiap apoteker harus mendaftar di komite farmasi nasional dalam hal ini adalah IAI. Setelah mendaftar maka mereka akan mendapatkan sertifikat kompetensi yang berlaku selama lima tahun. Selebihnya, setiap apoteker harus memperpanjang dengan persyaratan melakukan Continuing Professional Development (CPD) atau pendidikan berkelanjutan. Tak hanya itu, apoteker juga harus melakukan praktik.

Penjualan Obat di Apotek Harus Diperketat

Penjualan obat di apotek harus mendapatkan ijin dari dokter atau apoteker. Tanpa ijin, seharusnya tidak dilayani demi keselamatan konsumen yang akan mengonsumsi obat-obatan yang notabene merupakan racun jika dikonsumsi dalam dosis yang tinggi.

"Obat itu harus didistribusikan oleh apoteker atau dokter. karena itu kewenangan mereka," Kata Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Drs M Dani Pratomo Apt, seusai memberikan sambutan pada acara pengambilan sumpah apoteker Universitas Setia Budi (USB) Surakarta di Gedung Wanita Surakarta.

Sebelumnya diberitakan, Staf Penyuluh Badan Narkoba Kabupaten (BNK) Sukoharjo, Agus Widanarko menyayangkan adanya penjualan bebas pada obat penenang batuk jenis dextro di apotek. Menurutnya obat tersebut bisa menimbulkan efek mabuk jika dikonsumsi dalam dosis yang tinggi. Harganya pun dijual sangat murah karena hanya Rp 50 per butir. "Obat itu telah disalah gunakan oleh anak sekolah karena bisa dibeli tanpa resep dokter," kata Agus.

Dani melanjutkan, kewenangan menjelaskan dan mengelola obat dimiliki oleh apoteker. Namun pada kenyataannya terjadi penyimpangan karena obat di Indonesia sudah menjadi barang bebas tanpa ada ijin dari apoteker maupun dokter. Jika hal tersebut dibiarkan terus menerus maka akan terjadi efek negatif di masyarakat.

Dia mencontohkan penggunaan yang tak sesuai aturan bisa menimbulkan resistensi pada antibiotik. "Sebenarnya sudah ada aturan dalam pendistribusian obatnya. Sudah jelas siapa yang berwenang. Namun tinggal penerapannya di lapangan," katanya.

Sementara itu jelang diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tahun 2015, setiap apoteker yang akan bekerja di luar negeri harus diasimilasi dengan mengikuti uji kompetensi. Sebaliknya, semua apoteker lulusan sekolah luar negeri yang akan bekerja di Indonesia juga akan melalui uji kompetensi.

"Kita jangan sampai kalah dengan apoteker dari luar negeri. Karena pada tahun 2015 nanti akan diberlakukan AFTA dan semua harus mengikuti uji kompetensi. Namun kalau sudah sekolah di Indonesia, menjadi anggota IAI dan bekerja di sini tidak perlu asimilasi," jelasnya.

Kedepannya, kebutuhan tenaga apoteker sangat besar karena semua apotek harus memiliki tenaga apoteker yang cukup. Selain itu apoteker juga dituntut untuk berkolaborasi dengan dokter dan perawat. Karena, masih menurutnya, untuk memberikan obat dan menyembuhkan pasien harus ada koordinasi dari ketiganya.

Saat ini ada sekitar 16 ribu macam obat dari sekitar 700-an zat berkhasiat. Dari jumlah itu, satu jenis obat bisa lebih dari 12 macam merk. Dia mengatakan ada tiga skill yang harus dikuasai oleh seorang apoteker yakni knowledge, dan attitude, altruisme yakni memiliki jiwa malayani. (Suara Merdeka)

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi