Gunakan Antibiotika sesuai Kebutuhan

Gunakan Antibiotika sesuai Kebutuhan

(Asep Candra-healthkompas)

antibioticTidak jarang, antibiotika dianggap sebagai obat dewa yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Padahal, antibiotika tidak bisa dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan virus. Sembarangan mengonsumsi antibiotika hanya membuat tubuh sembutuhkan obat yang lebih kuat. Selain lebih mahal, jika punya efek samping yang juga lebih berat.

Antibiotika adalah obat yang digunakan untuk membunuh bakteri. "Karena itu, antibiotik diberikan ketika ada tanda-.anda infeksi bakteri," kata Dr. Tonny Loho, Sp.PK(K) dari Divisi Infeksi Departemen Patologi Klinik FKUI-RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Ada banyak jenis antibiotika dan masing-masing bekerja dengan cara berbeda pada berbagai jenis bakteri. Dokter akan memutuskan yang paling balk untuk infeksi yang diderita pasiennya.

Meskipun antibiotika adalah obat yang manjur, obat ini tidak mengobati segala jenis penyakit. Antibiotika tidak manjur melawan penyakit yang disebabkan oleh virus. Jadi obat yang satu ini tidak bisa mengobati flu, sebagian besar penyakit bronkitis akut, hidung meter, dan sebagian besar sakit tenggorokan yang bukan disebabkan bakteri Streptococcus.

Ada bahaya bila kita minum antibiotika ketika tidak membutuhkannya. Antibiotika bakal tidak bisa bekerja secara efektif saat kita benar-benar memerlukannya. Setiap kali kita minum antibiotika, di tubuh bersarang bakteri-bakteri yang tidak bisa dibunuh si antibiotika.

Bakteri ini kemudian bermutasi dan semakin sulit dibasmi. Antibiotika yang biasa digunakan untuk membunuhnya tak lagi mempan. Bakteri tersebut menjadi bakteri yang resisten terhadap antibiotika.

Infeksi Sulit

Bakteri yang makin bandel ini bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius dan lebih lama. Untuk mengobatinya, butuh antibiotika yang lebih kuat dan mahal. Antibiotika lebih kuat ini bisa menimbulkan efek samping dibandingkan dengan antibiotika sebelumnya.

Celakanya, bakteri resisten antibiotika ini bisa menyebar ke anggota keluarga, anak-anak, rekan kerja dan masyarakat sekitarnya. Masyarakat jadi punya risiko terkena infeksi yang semakin sulit dan mahal disembuhkan. Antibiotika yang biasa diresepkan dokter tidak lagi mempan.

Di samping itu, minum antibiotika ketika tak dibutuhkan malah menimbulkan efek samping pusing, diare, dan sakit perut. Antibiotika menyebabkan iritasi dan pembengkakan usus besar.

Ini terjadi karena antibiotika membunuh bakteri normal di usus dan menyebabkan bakteri C. difficile berkembang biak. Alhasil, terjadi diare, demam, dan kram perut. Wanita pun bisa terkena infeksi jamur vagina karena minum antibiotika sebab bakteri baik di vagina ikut terbunuh antibiotika.

"Selain dikonsumsi seperlunya sesuai dengan resep dokter, pasien juga sebaiknya berhati-hati mengonsumsi ketika sedang mengusahakan kehamilan. Katakan kepada dokter sedang dalam program punya anak, sehingga dokter pun akan lebih berhati-hati meresepkan antibiotika. Banyak yang baru tahu dirinya hamil setelah terlambat haid dua minggu. Lebih balk jika seorang talon ibu memberi tahu dokter sebelum itu," kata Dr. Tonny

Pasien juga boleh berinisiatif mengatakan kepada dokter apakah antibiotika pengobatan yang terbaik untuk penyakit yang diderita. Pasien boleh menyatakan kepada dokter tidak ingin mendapatkan antibiotika dan hanya mengonsumsinya ketika dibutuhkan.

Satu hal lain yang harus dipatuhi adalah tidak boleh minum antibiotika yang diresepkan untuk penyakit lain atau obat milik orang lain. Hal ini hanya menyebabkan penundaan pengobatan yang benar dan penderitanya jadi lebih sakit.

"Sebenarnya mudah saja cara agar kita tidak sedikit-sedikit minum antibiotika. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan pakai sabun adalah cara yang sangat mudah, tetapi efektif," ujar Dr. Tonny.

Cuci tangan pakai sabun dan dikeringkan dengan lap bersih ini harus dilakukan ketika usai bepergian ke tempat ramai, setelah buang air kecil dan besar, usai memegang hewan, serta sebelum mengolah makanan dan sebelum makan.

Vaksinasi adalah langkah selanjutnya supaya tubuh tidak mudah tertular penyakit yang tak bisa diobati antibiotika, misalnya vaksin flu. Vaksin ini sudah tersedia di rumah sakit tertentu.


Batasi Penggunaan Antibiotik

Kecerobohan dokter umum ataupun petugas kesehatan dalam memberikan antibiotik untuk mengobati berbagai penyakit infeksi membuat banyak penderita pneumonia mengalami kebal antibiotik.

Bahkan, pada sejumlah kasus di Indonesia, kekebalan sudah mencapai tahap akhir sehingga tak ada lagi obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan.

Guru Besar Paru dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Hadiarto Mangunnegoro di Jakarta, menegaskan, tidak semua penyakit yang ditimbulkan oleh kuman membutuhkan antibiotik untuk pengobatannya.

Pemberian antibiotik harus memperhitungkan riwayat penyakit yang dialami pasien sebelumnya. Konsumsi antibiotik pasien juga harus diperhatikan, seperti jenis, dosis, dan masa pemberian antibiotik. Antibiotik harus diberikan berdasarkan uji laboratorium yang lengkap.

"Banyak antibiotik diberikan hanya berdasarkan pengalaman sehingga sering kali antibiotik yang diberikan tak cocok dengan jenis kumannya," kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia M Arifin Nawas.

Pemberian antibiotik secara asal-asalan itu banyak dilakukan dokter umum. Akibatnya, ketika penyakit semakin parah dan ditangani dokter spesialis, kekebalan antibiotik sudah terjadi sehingga menjadi sulit ditangani.

Kondisi itu diperparah dengan buruknya pemahaman masyarakat dalam mengonsumsi antibiotik. Mereka sering kali tidak mengonsumsinya hingga tuntas karena merasa kondisi tubuh sudah membaik. Selain itu, buruknya pengawasan penjualan antibiotik juga membuat masyarakat bebas membeli antibiotik.

Martahan Sitorus dari Subdirektorat Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut, Kementerian Kesehatan, mengakui rendahnya kemampuan dokter, khususnya yang bertugas di puskesmas, dalam mematuhi aturan pemberian antibiotik.

Sejumlah tenaga kesehatan sudah mendapat pelatihan penggunaan antibiotik. Namun, karena kendali tenaga kesehatan ada pada pemerintah daerah, banyak tenaga kesehatan yang sudah dilatih dipindahkan posisinya hingga manfaat pelatihan tak optimal.

Penyebab kematian utama Pneumonia adalah salah satu jenis radang paru yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Karena penyebabnya kuman, pengobatan utama harus menggunakan antibiotik. Gejala penyakit ini mirip dengan influenza biasa, seperti demam, sakit kepala, batuk, nyeri dada, hingga sakit pada otot.

Penyakit ini banyak diderita anak berusia di bawah lima tahun (balita) dan para lansia. Pneumonia juga banyak menjadi penyakit penyerta penderita penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pneumonia merupakan penyebab kematian 13,2 persen anak balita dan 12,7 persen anak di Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2010 menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi pasien rawat inap di rumah sakit sebesar 7,60 persen, jauh lebih tinggi daripada kematian akibat cedera.

Menurut Hadiarto, meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia dan perkembangan penyakit non-infeksi yang mulai banyak menyerang kelompok usia produktif membuat jumlah penderita pneumonia terus membengkak. Banyaknya kelompok orang dewasa yang menderita pneumonia membuat beban ekonomi yang harus ditanggung tinggi.

"Jika antibiotik diberikan secara tepat, sesuai dosis, jenis, dan pola kuman di setiap daerah, pneumonia tanpa komplikasi dapat sembuh hanya dalam waktu 5-7 hari," ujarnya.

Sesudah tiga hari pasca-pemberian antibiotik, dokter harus melihat respons antibiotik yang diberikan. Jika sesuai, pemberian antibiotik tinggal dituntaskan dua hingga lima hari berikutnya. (heathkompas)

Parent Category: Artikel & Konten