Obat Palsu Merugikan Kesehatan dan Perekonomian Masyarakat

obat farmasi(Vien Dimyati-Jurnas)

Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP) mengajak seluruh pemangku kepentingan berperan aktif memerangi obat palsu di Indonesia. Ajakan ini menyusul hasil survei Victory Project FK U-RSCM yang menunjukkan maraknya peredaran obat palsu yang dijual di warung, apotik, dan toko obat.

Ketua MIAP, Widyaretna Buenastuti mengatakan banyaknya obat palsu yang mengandung bahan-bahan berbahaya terhadap kesehatan semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, obat-obat palsu yang beredar adalah obat yang tidak dibuat sesuai standar.

Berdasarkan penelitian terkini yakni, victory project yang dilakukan Akmal Taher,dari Departemen Urology, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) dan didukung PT Pfizer Indonesia ditemukan, sebanyak 45 persen produk PDE5 Inhibitor (Sildenafil) atau juga dikenal sebagai obat terapi disfungsi ereksi, yang dijual di Indonesia adalah obat palsu.

Victory Project adalah proyek penelitian yang dilakukan pakar bidang kesehatan dan farmasi. Di Indonesia penelitian ini dilakukan FKUI-RSCM dengan tujuan untuk mengukur seberapa jauh masalah pemalsuan obat PDE5 Inhibitor (Sildenafil) di Indonesia dan selanjutnya memublikasikan hasil penelitian tersebut dalam rangka membangun kerja sama dengan institusi pemerintah maupun para professional dalam bidang kesehatan untuk mengembangkan aksi melawan pemalsuan obat.

"Masalah obat-obatan palsu adalah masalah yang amat berbahaya dan berkembang terus termasuk di Indonesia, dan sekarang ini semua jenis obat dapat menjadi target pemalsuan, baik obat bermerek ataupun obat yang generik," kata Widyaretna.

Obat-obatan palsu, lanjutnya, tidak hanya berakibat dan menimbulkan risiko terhadap kesehatan masyarakat, tetapi secara ekonomi juga merugikan bagi masyarakat dan juga berdampak terhadap ekonomi nasional. Hasil penelitian menunjukkan adanya kandungan berbahaya pada obat palsu.

Riset yang dilakukan di empat wilayah di Indonesia ini dilakukan dengan menggunakan metodemystery shopping yang dilakukan pada berbagai macam outlet penjualan termasuk toko obat, apotek, penjual obat di jalan dan juga pembelian melalui online.

Melva Louisa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menyatakan, dari sisi kesehatan sudah tentu obat palsu yang di dalamnya mungkin mengandung zat berbahaya atau tidak dibuat dengan takaran sebenarnya, berkisar dari sangat kecil hingga sangat berlebihan, pasti berakibat pada pengobatan pasien, bisa tidak kunjung sembuh, resisten terhadap pengobatan, sehingga kondisi makin memburuk dan bahkan dalam kondisi ekstrem hal ini dapat menimbulkan kematian.

"Hasil survei victory project yang dilakukan oleh pakar kesehatan dan juga didukung oleh produsen obat Pfizer Indonesia ini merupakan salah satu bentuk peringatan kepada berbagai pihak akan masalah obat palsu, agar semua alert dan masyarakat mengambil langkah dalam memerangi obat palsu," katanya.

Widyaretna kembali menambahkan, sudah saatnya semua pihak bergotong royong untuk melindungi masyarakat Indonesia dari bahayanya peredaran obat palsu. Harapan dari pemberantasan obat palsu adalah masyarakat yang lebih sehat, produktivitas meningkat, ekonomi nasional membaik dan kemajuan bagi bangsa dan negara Indonesia.

"Dari obat-obatan yang sering dipalsukan di Indonesia, obat-obatan yang terkait dengan terapi disfungsi ereksi atau dikenal dengan sebutan PDE5 Inhibitor (phosphodiesterase type 5 inhibitor) menjadi salah satu dari obat yang juga kerap dipalsukan," katanya.

Riset victory project dilakukan di empat wilayah di Indonesia meliputi Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur (Surabaya dan Malang) serta Medan dengan sampel obat yang dibeli adalah Sildenafil yang dibeli lewat berbagai gerai penjualan baik apotek (umum, jaringan, RS), toko obat, penjual pinggir jalan (Jakarta & Surabaya) serta lewat pembelian online di tiga situs yang menawarkan.

Dari hasil riset tersebut yang mengambil sebanyak 518 jumlah tablet dari 157 outletmenunjukkan bahwa tingkat pemalsuan obat jenis ini mencapai 45 persen. Perlu menjadi perhatian dari hasil riset ini adalah penetrasi penyebaran obat palsu PDE5 Inhibitor ternyata juga bisa menembus masuk ke apotek. Dari 518 jumlah tablet yang diuji menunjukkan obat palsu jenis PDE5i yang dijual oleh penjual pinggir jalan 100 persen palsu, sedangkan dari toko obat sebanyak 56 persen palsu, lewat situs internet 33 persen palsu dan di Apotik dengan persentase terendah yaitu 13 persen palsu.

Dalam hasil uji ditemukan bahwa di dalam obat PDE5i yang palsu ditemukan kandungan bahan aktif yang kurang atau ada yang berlipat atau melebihi kadar yang seharusnya. Sedangkan berdasarkan wilayah penelitian, di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur ditemukan jumlah obat palsu jenis ini mencapai 50 persen. Sementara di Bandung dan Medan persentasenya mencapai 18 persen dan 20 persen.

"Hasil riset Project Victory ini menggambarkan bahwa kewaspadaan terhadap peredaran obat palsu perlu semakin diperhatikan oleh semua kalangan. Para Dokter, yang berhubungan langsung dengan pasien pengguna obat perlu untuk kembali mengingatkan pasien agar selalu mengupayakan untuk membeli obat-obatan hanya di tempat-tempat resmi," katanya.

 

Waspadai Obat Palsu di Sekitar Kita

(Republika) Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk turut berperan aktif memerangi obat palsu di Indonesia.

Ketua MIAP Widyaretna Buenastuti, mengatakan ada banyak obat palsu yang mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan.

Widyaretna mengatakan, ada banyak obat-oabtan saat ini yang dibuat tidak dibuat sesuai dengan standard. Kehadiran obat palsu, kata dia, jelas memunculkan masalah yang amat berbahaya.

''Masalah ini berkembang terus termasuk di Indonesia. Dan sekarang ini semua jenis obat dapat menjadi target pemalsuan, baik obat bermerek ataupun yang generik,'' ujar Widyaretna dalam rilis yang diterima Republika Online, Ahad (21/4).

Sebuah penelitian terkini tentang obat palu yakni Victory Project yang dilakukan Akmal Taher dari Departemen Urology, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana masalah pemalsuan obat khususnya produk PDE5 Inhibitor (Sildenafil).

Obat ini dikenal sebagai obat terapi disfungsi ereksi. Riset telah dilakukan di empat wilayah di Indonesia., yakni Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur (Surabaya & Malang) serta Medan . Widyaretna mengatakan, riset dilakukan menggunakan metode mystery shopping yang dilakukan pada berbagai macam outlet penjualan. Penjual obat di jalan dan juga pembelian melalui online pun ternasuk yang diriset.

Obat-obatan palsu, kata Widyaretna, tidak hanya berakibat dan menimbulkan risiko terhadap kesehatan masyarakat. Tetapi secara ekonomi juga merugikan bagi masyarakat dan juga berdampak terhadap ekonomi nasional

Hasil penelitian tersebut, menunjukkan adanya kandungan berbahaya pada obat palsu. Melva Louisa, salah seorang Biomed dari FKUI menyatakan, dari sisi kesehatan sudah tentu obat palsu yang didalamnya mungkin mengandung zat berbahaya. Bisa pula tidak dibuat dengan takaran sebenarnya.

''Berkisar sangat kecil hingga sangat berlebihan, pasti berakibat pada pengobatan pasien. Dampaknya bisa tidak kunjung sembuh, resisten terhadap pengobatan, sehingga kondisi makin memburuk dan bahkan dalam kondisi ekstrem hal ini dapat menimbulkan kematian,'' kata Melva.

 

Obat Terapi Disfungsi Ereksi Banyak Dipalsukan

(Republika) Ada kabar buruk buat Anda yang gemar mengonsumsi obat-obatan disfungsi ereksi. Sebuah riset yang dilakukan Victory Project, sebuah proyek penelitian yang dilakukan oleh pakar bidang kesehatan dan farmasi dari FKUI-RSCM, menemukan tingginya pemalsuan obat-obatan khususnya obat terkait disfungsi ereksi atau PDE5 Inhibitor (phosphodiesterase type 5 inhibitor).

Riset terkait pemalsuan obat tersebut dilakukan empat wilayah di Indonesia. Meliputi Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur (Surabaya & Malang) serta Medan . Obat-obatan dibeli di berbagai outlet penjualan baik di Apotek (umum, jaringan, rumahsakit) , toko obat, penjual pinggir jalan serta lewat pembelian online di tiga situs yang menawarkan sampel obat yang dibeli adalah Sildanefil atau umum dikenal sebagai Viagra.

Riset tersebut mengambil sebanyak 518 jumlah tablet dari 157 outlet yang tersebar. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pemalsuan obat jenis ini mencapai 45 persen.

''Yang perlu menjadi perhatian dari hasil riset ini adalah penetrasi penyebaran obat palsu PDE5 Inhibitor ternyata juga bisa menembus masuk ke apotek,'' ujar Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Widyaretna Buenastuti, dalam rilis yang diterima Republika Ahad (21/4).

Dari 518 jumlah tablet yang diuji menunjukkan, obat palsu jenis PDE5i yang dijual oleh penjual pinggir jalan 100 persen palsu. Sedangkan yang dijual di toko obat sebanyak 56 persen palsu. Sedangakn yang dijual lewat situs internet 33 persen palsu. Sementara yang dijual di Apotek menduduki prosentase terendah yaitu 13 pewrsen palsu.

Dalam hasil uji, kata Widyaretna, ditemukan di dalam obat PDE5i yang palsu , kandungan bahan aktifnya banyak dikurangi atau ada yang berlipat bahkan melebihi kadar yang seharusnya. Adapun penyebaran obat palsu terbanyak beredar di wilayah penelitian, yakni di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. ''Di Jabodetabek ditemukan jumlah obat palsu jenis ini mencapai 50persen, sementara di Bandung dan Medan prosentasenya mencapai 18 persen dan 20 persen,'' kata Widyaretna.

Parent Category: Artikel & Konten
Category: Berita Farmasi